Makroekonomi
26 Maret, 2025 13:34 WIB
Penulis:Muhammad Imam Hatami
Editor:Ananda Astridianka
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami tekanan berat dan mencetak level mendekati rekor terburuk sepanjang sejarah. Pada perdagangan Selasa sore, 25 Maret 2025, rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,26% ke Rp16.612 per dolar AS.
Bahkan, pada perdagangan jelang tengah hari Selasa kemarin, rupiah sempat menyentuh Rp16.641 per dolar AS. Ini mendekati rekor terendah sepanjang sejarah yang terjadi pada Juni 1998 sebesar Rp16.650 per dolar AS, saat krisis moneter melanda Indonesia.
Bank Indonesia (BI) merespons pelemahan rupiah ini dengan menegaskan bahwa situasi saat ini berbeda dari krisis 1998, karena fundamental ekonomi Indonesia dinilai jauh lebih kuat.
Berdasarkan catatan BI, sejak pertengahan 2024, rupiah hanya mengalami pelemahan 1,33%, yang masih lebih baik dibandingkan mata uang lain di kawasan seperti won Korea yang melemah 6,30% dan rupee India yang turun 2,74%.
Nilai tukar rupiah terus mengalami tekanan akibat kombinasi faktor global dan domestik. Tren proteksionisme global yang semakin kuat serta sentimen negatif dari dalam negeri membuat rupiah melemah 44 poin (- 0,27%) ke level Rp16.612 per dolar AS pada perdagangan Selasa sore.
Tekanan ini diperparah oleh ketidakpastian ekonomi global yang berlanjut, serta melemahnya investasi dalam negeri akibat kebijakan tarif perdagangan Amerika Serikat yang semakin agresif.
Perlambatan ekonomi Indonesia pada 2025 dan 2026 juga menjadi perhatian utama. Pertumbuhan ekonomi tahun ini diprediksi hanya mencapai 4,9%, lebih rendah dari estimasi awal 5,1%, sementara proyeksi untuk 2026 juga direvisi turun menjadi 4,9%.
Sektor industri padat karya, seperti tekstil, mulai merasakan dampak buruk dengan meningkatnya gelombang PHK massal, yang pada akhirnya berpotensi melemahkan konsumsi rumah tangga.
“Pertumbuhan ekonomi pada 2025 hanya akan sebesar 4,9 persen, lebih rendah ketimbang prediksi sebelumnya di angka 5,1 persen,” jelas Pengamat mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuabi, dalam keterangan resmi, Rabu, 26 Maret 2025.
Selain itu, ketidakpastian transisi kepemimpinan baik di Indonesia maupun Amerika Serikat semakin menekan permintaan kredit dan menghambat laju pertumbuhan ekonomi.
Bank Indonesia (BI) telah melakukan berbagai upaya stabilisasi, termasuk intervensi di pasar valas dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). Namun, kekhawatiran investor tetap tinggi, terutama karena kebijakan fiskal ekspansif pemerintahan Presiden Prabowo yang memicu pemotongan anggaran di sektor pendidikan dan infrastruktur.
"Kekhawatiran investor telah meningkat karena inisiatif fiskal ekspansif Presiden Prabowo Subianto telah menyebabkan pemotongan anggaran yang signifikan," tambah Ibrahim.
Pasar saham pun mengalami penurunan tajam sepanjang bulan ini, mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap prospek ekonomi ke depan. Ketegangan perdagangan global juga semakin meningkat.
Ini terutama setelah Presiden AS Donald Trump berencana menerapkan kebijakan tarif lebih selektif mulai 2 April, yang dapat berdampak langsung pada negara-negara dengan neraca perdagangan yang tidak seimbang dengan AS.
Pada perdagangan Rabu pagi, 26 Maret 2025, rupiah menunjukkan rebound tipis. Rupiah dibuka di level Rp 16.603 per dolar AS, menguat 0,05% dibandingkan penutupan sore sebelumnya. Penguatan tersebut menjadi sinyal positif setelah rupiah sempat menyentuh titik terlemah sejak 1998.
Meski mengalami penguatan, sebagian besar mata uang Asia masih berada di zona merah. Yen Jepang mengalami pelemahan terdalam, turun 0,11%, diikuti baht Thailand dan peso Filipina yang masing-masing turun 0,06%.
Won Korea Selatan juga turun 0,05%, sementara dolar Singapura dan yuan China masing-masing melemah 0,04% dan 0,02%. Sementara itu, ringgit Malaysia justru mencatatkan penguatan tertinggi di Asia, naik 0,3%, diikuti dolar Taiwan yang menguat 0,02%.
Bank Indonesia menegaskan akan terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui berbagai langkah intervensi di pasar keuangan. BI juga melakukan strategi triple intervention, yaitu intervensi di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Selain itu, BI juga memastikan volatilitas nilai tukar tetap terkendali untuk menjaga kepercayaan pasar terhadap rupiah. Meskipun tekanan global masih tinggi, BI meyakini pelemahan rupiah masih dalam batas wajar dan tidak mengancam stabilitas ekonomi nasional.
Pemerintah dan otoritas keuangan akan terus memantau kondisi pasar guna memastikan perekonomian Indonesia tetap kuat di tengah tantangan global yang terus berkembang.
Bagikan
Makroekonomi
4 hari yang lalu
Makroekonomi
6 hari yang lalu
Makroekonomi
7 hari yang lalu