logo
Ikuti Kami di:

Kala Rupiah Rontok, Airlangga Jamin Fundamental Ekonomi Kuat

Kala Rupiah Rontok, Airlangga Jamin Fundamental Ekonomi Kuat
Dollar US
Muhammad Imam Hatami27 Maret, 2025 20:30 WIB

JAKARTA - Pelemahan rupiah baru baru ini dinilai adalah dinamika pasar yang masih dalam batas wajar dan sudah menunjukkan tanda-tanda penguatan. Pemerintah menegaskan fundamental ekonomi Indonesia tetap solid meskipun nilai tukar rupiah mengalami fluktuasi dalam beberapa hari terakhir. 

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkap cadangan devisa negara yang masih cukup, neraca perdagangan yang terus positif, serta kebijakan penyimpanan devisa hasil ekspor (DHE) di dalam negeri menjadi faktor utama yang menjaga stabilitas ekonomi nasional.

"Ya rupiah seperti biasa berfluktuasi, tetapi tentu kami lihat secara fundamental kuat, kemudian juga kami lihat nanti secara jangka menengah dan panjang," ujar Menko Airlangga menjawab pertanyaan awak media di Istana Kepresidenan RI, Jakarta, Kamis, 27 Maret 2025.

Lebih lanjut, Airlangga menjelaskan pemerintah terus berupaya menjaga stabilitas rupiah melalui pengendalian DHE. Kebijakan ini bertujuan untuk memperkuat posisi mata uang nasional dan mengurangi tekanan eksternal yang dapat mempengaruhi ekonomi domestik. 

"Kita sudah melaksanakan yang namanya devisa hasil ekspor. Jadi, kita tidak ter-corner ke depan sehingga fundamental devisa hasil ekspor juga akan memperkuat posisi rupiah," jelas Arilangga.

Pemerintah juga memastikan bahwa strategi ekonomi yang diterapkan mampu menjaga daya beli masyarakat serta mengendalikan inflasi.

Faktor Pendukung Kestabilan Ekonomi

Menurut Airlangga, ada beberapa faktor utama yang membuat ekonomi Indonesia tetap kuat meskipun menghadapi tekanan global, antara lain:

1. Cadangan Devisa yang Kuat

Indonesia memiliki cadangan devisa yang cukup untuk menopang stabilitas moneter dan keuangan. Posisi cadangan devisa yang memadai memungkinkan Bank Indonesia melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menjaga pergerakan nilai tukar rupiah agar tetap terkendali.

2. Neraca Perdagangan yang Surplus

Surplus neraca perdagangan yang berkelanjutan menunjukkan bahwa Indonesia masih mampu menjaga ekspor lebih tinggi dibanding impor. Hal ini mencerminkan daya saing produk-produk Indonesia di pasar internasional serta ketahanan sektor industri dalam negeri.

3. Penerapan Kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE)

Kebijakan penyimpanan DHE di dalam negeri yang diterapkan pemerintah bertujuan untuk memastikan likuiditas dolar tetap tersedia di dalam negeri dan tidak keluar ke luar negeri secara berlebihan. Dengan demikian, tekanan terhadap rupiah dapat diminimalkan.

Inflasi yang Terkendali, Pemerintah dan Bank Indonesia terus berkoordinasi untuk mengendalikan laju inflasi agar tetap dalam kisaran yang stabil. Inflasi yang terkendali membantu menjaga daya beli masyarakat serta meningkatkan kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia.

Respons Terhadap Fluktuasi Rupiah

Airlangga menekankan bahwa fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS merupakan hal yang wajar dalam mekanisme pasar global. Menurutnya, pelemahan rupiah yang terjadi dalam beberapa hari terakhir tidak mencerminkan adanya masalah fundamental dalam perekonomian nasional.

Sementara itu, rupiah menunjukkan tanda-tanda penguatan di pasar. Pada pembukaan perdagangan Kamis pagi, rupiah menguat sebesar 8 poin ke level Rp16.604 per dolar AS, dan pada penutupan perdagangan naik 24 poin menjadi Rp16.588 per dolar AS.

Airlangga optimistis bahwa langkah-langkah yang diambil pemerintah dapat menjaga kestabilan rupiah dalam jangka panjang serta memberikan kepastian bagi pelaku usaha dan investor di Indonesia. 

Pemerintah juga terus memantau perkembangan ekonomi global, termasuk kebijakan suku bunga The Fed dan dinamika geopolitik yang berpotensi mempengaruhi pasar keuangan dunia.