Dunia
03 April, 2025 12:00 WIB
Penulis:Distika Safara Setianda
Editor:Ananda Astridianka
JAKARTA – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump resmi memberlakukan tarif impor dasar sebesar 10% untuk semua barang yang masuk ke AS. Trump juga menetapkan tarif lebih tinggi bagi puluhan negara lain, termasuk beberapa mitra dagang utama AS, terutama negara-negara dengan defisit perdagangan terbesar terhadap AS.
Tarif luas ini mendapat kecaman dari banyak sekutu lama AS yang terkejut dengan besarnya tarif yang dikenakan. Kebijakan ini diperkirakan akan menciptakan hambatan baru bagi ekonomi konsumen terbesar di dunia, membalikkan tren liberalisasi perdagangan yang telah membentuk tatanan global selama beberapa dekade.
“Itu deklarasi kemerdekaan kami,” kata Trump dalam sebuah acara di Taman Mawar Gedung Putih dikutip dari Reuters, Kamis, 6 Maret 2025.
China menjadi salah satu negara yang terkena sanksi, dengan kenaikan tarif impor menjadi 34% dari sebelumnya 20%. Sekutu dekat AS juga terdampak kebijakan ini, termasuk Uni Eropa yang kini menghadapi tarif sebesar 20%.
“Dalam banyak kasus, teman lebih buruk daripada musuh dalam hal perdagangan,” ujar Trump.
Saat mengumumkan tarif baru, Trump menunjukkan papan yang merinci tarif yang dikenakan pada sebagian besar negara.
Tarif tersebut berkisar antara 10% hingga 49% pada papan pertama, dan meningkat hingga 50% pada papan berikutnya.
Indonesia tercatat dalam daftar tarif tersebut, dengan disebutkan Indonesia menerapkan tarif sebesar 64% untuk barang-barang asal AS. AS kemudian akan mengenakan tarif sebesar 32% terhadap barang-barang Indonesia yang dijual di negara tersebut.
“Mereka mengenakan biaya kepada kami, kami mengenakan biaya kepada mereka. Bagaimana mungkin ada orang yang marah?” katanya.
Trump secara spesifik menunjuk China dan Uni Eropa. “Mereka menipu kami. Sungguh menyedihkan melihatnya. Sungguh menyedihkan.”
Sebagai tanggapan, AS akan mengenakan tarif pada negara-negara lain sekitar setengah dari tarif yang mereka terapkan pada AS.
“Jadi, tarif tersebut tidak akan berlaku secara timbal balik. Saya bisa saja melakukan itu, ya, tetapi akan sulit bagi banyak negara. Kami tidak ingin melakukan itu,” katanya.
Seorang pejabat Gedung Putih yang tidak disebutkan namanya mengungkapkan tarif yang lebih tinggi akan mulai diberlakukan pada 9 April dan mencakup sekitar 60 negara secara keseluruhan.
Sementara, tarif dasar sebesar 10% akan mulai berlaku pada Sabtu, 5 April.
Menurut Trump, tarif timbal balik ini merupakan respons terhadap bea masuk dan hambatan non-tarif lain yang diterapkan pada barang-barang AS.
Menurut lembar fakta Gedung Putih, beberapa barang akan dikecualikan dari tarif timbal balik. Barang-barang tersebut meliputi barang yang dikenakan 50 USC 1702(b), baja/aluminium, serta mobil dan suku cadangnya yang sudah dikenakan tarif berdasarkan Bagian 232, selain itu juga tembaga, farmasi, semikonduktor, dan kayu.
Menurut kepala riset AS di Fitch Ratings, tarif impor efektif AS telah melonjak menjadi 22% di bawah kepemimpinan Trump, dibandingkan dengan hanya 2,5% pada tahun 2024.
“Tarif ini terakhir kali terlihat sekitar tahun 1910,” kata Olu Sonola dalam sebuah pernyataan. “Ini akan mengubah permainan, tidak hanya untuk ekonomi AS, tetapi juga untuk ekonomi global. Banyak negara kemungkinan besar akan menghadapi resesi. Anda bisa membuang sebagian besar perkiraan jika tarif ini tetap berlaku dalam jangka panjang.”
Tarif timbal balik, kata Trump, merupakan respons terhadap bea masuk dan hambatan non-tarif lainnya yang dikenakan pada barang-barang AS. Dia berpendapat tarif baru ini akan meningkatkan lapangan kerja di sektor manufaktur di dalam negeri.
“Selama beberapa dekade, negara kita telah dibajak, dijarah, dirampok, dan dihancurkan oleh negara-negara baik teman maupun musuh, dekat maupun jauh,” kata Trump dalam sebuah acara di Taman Mawar Gedung Putih.
Ekonom luar menyarankan tarif ini bisa memperlambat ekonomi global, meningkatkan risiko resesi, dan menambah biaya hidup bagi keluarga rata-rata AS hingga ribuan dolar.
Kanada dan Meksiko, dua mitra dagang terbesar AS, sudah menghadapi tarif 25% untuk banyak barang dan tidak akan dikenakan tarif tambahan dari pengumuman yang dibuat pada hari Rabu.
Bahkan beberapa rekan sejawat dari Partai Republik pun mengungkapkan kekhawatiran mengenai kebijakan perdagangan agresif Trump.
Ekonom utama Trump, Stephen Miran, mengatakan kepada Fox Business pada hari Rabu bahwa tarif akan memberikan dampak baik bagi AS dalam jangka panjang, bahkan jika tarif tersebut menyebabkan beberapa gangguan awal.
“Apakah akan ada dampak jangka pendek sebagai akibatnya? Tentu saja,” kata Miran, ketua Dewan Penasihat Ekonomi Trump, kepada program Kudlow di jaringan tersebut.
Algeria 30%
Oman 10%
Uruguay 10%
Bahamas 10%
Lesotho 50%
Ukraine 10%
Bahrain 10%
Qatar 10%
Mauritius 40%
Fiji 32%
Iceland 10%
Kenya 10%
Liechtenstein 37%
Guyana 38%
Haiti 10%
Bosnia and Herzegovina 35%
Nigeria 14%
Namibia 21%
Brunei 24%
Bolivia 10%
Panama 10%
Venezuela 15%
North Macedonia 33%
Ethiopia 10%
Ghana 10%
Tarif Timbal Balik
China 34%
Uni Eropa 20%
Vietnam 46%
Taiwan 32%
Japan 24%
India 26%
South Korea 25%
Thailand 36%
Switzerland 31%
Indonesia 32%
Malaysia 24%
Cambodia 49%
United Kingdom 10%
South Africa 30%
Brazil 10%
Bangladesh 37%
Singapore 10%
Israel 17%
Philippines 17%
Chile 10%
Australia 10%
Pakistan 29%
Turkey 10%
Sri Lanka 44%
Colombia 10%
Peru 10%
Nicaragua 18%
Norway 15%
Costa Rica 10%
Jordan 20%
Dominican Republic 10%
United Arab Emirates 10%
New Zealand 10%
Argentina 10%
Ecuador 10%
Guatemala 10%
Honduras 10%
Madagascar 47%
Myanmar (Burma) 44%
Tunisia 28%
Kazakhstan 27%
Serbia 37%
Egypt 10%
Saudi Arabia 10%
El Salvador 10%
Côte d’Ivoire 21%
Laos 48%
Botswana 37%
Trinidad and Tobago 10%
Morocco 10%
Bagikan
Dunia
6 jam yang lalu