Tekno
03 April, 2025 14:51 WIB
Penulis:Distika Safara Setianda
Editor:Ananda Astridianka
JAKARTA – Versi terbaru dari generator gambar OpenAI, GPT-4o, memiliki fitur baru yang tengah viral di media sosial. Jika menelusuri lini masa media sosial, kalian akan menemukan gambar bergaya anime yang menampilkan wajah manusia.
Gambar-gambar ini dibuat menggunakan GPT-4o melalui ChatGPT dan memiliki ciri khas visual yang menyerupai karya Studio Ghibli, studio animasi Jepang ternama yang didirikan oleh sutradara legendaris, animator, dan seniman Hayao Miyazaki.
Film dan serial Studio Ghibli sangat dicintai oleh penggemarnya di seluruh dunia. Karakter dalam karyanya meninggalkan kesan mendalam bagi siapa saja yang pernah menonton Kiki’s Delivery Service, My Neighbor Totoro, Spirited Away, Howl’s Moving Castle, Princess Mononoke, Ponyo, dan berbagai anime klasik modern lainnya.
OpenAI menyatakan bahwa kemampuan GPT-4o dalam menghasilkan gambar sangat unggul dalam menyajikan teks dengan akurat, mengikuti perintah dengan tepat—termasuk mengubah gambar yang diunggah atau menggunakannya sebagai inspirasi visual.
Hasil gambar yang dihasilkan AI ini berbicara sendiri. GPT-4o memiliki kemampuan luar biasa dalam menciptakan gambar dari foto yang sudah ada, yang tampak seperti karya seniman Studio Ghibli.
Fitur ini begitu populer hingga Sam Altman dari OpenAI mengungkapkan di X bahwa “Sangat menyenangkan melihat orang-orang menyukai gambar di ChatGPT, tetapi GPU kami kepanasan.”
Dilansir dari Tom’s Guide, Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan (AI) berkembang setiap hari, dan ChatGPT tetap menjadi salah satu yang terdepan berkat komitmennya terhadap peningkatan berkelanjutan. Namun, bagi sebagian orang, pengumuman pekan lalu tentang peningkatan kemampuan pembuatan gambar dianggap sebagai langkah yang terlalu jauh.
Kemampuan bawaan GPT-4o dalam menghasilkan gambar memang mengesankan, namun klaim bahwa teknologi ini didukung oleh data yang tersedia untuk umum menimbulkan perdebatan.
Dengan hanya menambahkan beberapa kata dalam perintah, pengguna dapat meniru gaya seni terkenal dan ikonik dengan mudah. Salah satu gaya yang paling banyak digunakan sebagai referensi adalah karya Studio Ghibli.
Dilansir dari Tatler Asia, Hayao Miyazaki pernah menyampaikan pandangannya mengenai animasi yang dihasilkan oleh AI. Dalam film dokumenter NHK tahun 2016 berjudul The Never-ending Man: Hayao Miyazaki, ia mengungkapkan sikap tegas terhadap seni dan animasi berbasis AI.
Saat seorang eksekutif industri hiburan menunjukkan kepadanya cuplikan animasi prosedural berupa tubuh tanpa kepala, Miyazaki mengungkapkan bahwa hal tersebut mengingatkannya pada seorang temannya yang memiliki disabilitas otot. Ia menilai bahwa animasi tersebut tidak sensitif dan kurang memiliki empati terhadap orang-orang dengan kondisi serupa.
Ia juga menyatakan, “Saya tidak bisa menonton hal semacam ini dan menganggapnya menarik. Orang yang menciptakannya sama sekali tidak memahami apa itu rasa sakit. Saya benar-benar jijik. Jika Anda ingin membuat sesuatu yang menyeramkan, silakan saja. Namun, saya tidak akan pernah memasukkan teknologi ini (AI0 ke dalam karya saya.”
Miyazaki menambahkan, “Saya sangat merasa bahwa ini adalah penghinaan terhadap kehidupan itu sendiri.”
Di adegan berikutnya, Miyazaki terlihat mengatakan, “Saya merasa kita sudah mendekati akhir zaman. Kita sebagai manusia sedang kehilangan kepercayaan pada diri sendiri.”
Dalam produksi film Studio Ghibli, biasanya terdapat sekitar 50 hingga 70 animator yang terlibat. Para seniman Ghibli menggunakan teknik animasi tradisional, di mana setiap frame dalam film digambar secara manual.
Setiap detik film membutuhkan rata-rata 24 gambar. Prosesnya memakan waktu lama dan mencakup beberapa tahap, seperti pembuatan storyboard, menggambar pose kunci, mengisi frame di antara pose-pose tersebut, serta melukis latar belakang.
Produser Studio Ghibli Toshio Suzuki pernah menyatakan bahwa dengan tim berisi 60 animator, mereka membutuhkan satu bulan hanya untuk menghasilkan satu menit animasi. Dalam film How Do You Live? karya Miyazaki, proses pembuatan 12 menit film memakan waktu hingga 12 bulan.
Untuk membuat gambar bergaya Ghibli menggunakan AI, pengguna cukup membuka ChatGPT, mengunggah gambar, memasukkan perintah yang mendeskripsikan gaya gambar yang diinginkan, menunggu beberapa menit, lalu mengunduh dan membagikan hasilnya.
Selain ChatGPT, generator seni AI lain seperti Stable Diffusion, Deep Dream Generator, dan Runway ML juga dapat digunakan untuk menciptakan efek serupa. Terlepas dari isu hak cipta dan kepemilikan intelektual, proses ini sepenuhnya menghilangkan keterlibatan manusia dalam proses kreatif.
Hayao Miyazaki, pernah menyebut animasi berbasis kecerdasan buatan sebagai penghinaan terhadap kehidupan itu sendiri. Namun, hampir satu dekade kemudian, internet kini dipenuhi dengan gelombang gambar buatan AI yang meniru gaya seni khasnya.
Fitur terbaru di ChatGPT yang memungkinkan pengguna menghasilkan gambar dalam berbagai gaya artistik telah memicu tren di media sosial. Ribuan orang mulai membuat meme dan potret pribadi dengan gaya seni khas Studio Ghibli menggunakan AI.
Tren ini telah mendapat banyak kritik dan memicu diskusi lebih luas mengenai dilema etika seni yang dihasilkan oleh AI di era yang semakin didominasi oleh algoritma. Mampukah AI benar-benar menangkap kedalaman dan jiwa dari seni yang diciptakan manusia, atau justru ada sesuatu yang mengkhawatirkan dari fenomena baru ini?
Dilansir dari smh.com.au, hanya dalam hitungan jam setelah OpenAI meluncurkan fitur pembuatan gambar terbarunya pada hari Selasa, pengguna mulai mengunggah foto pribadi mereka dalam gaya animasi khas Ghibli. Hal ini dengan cepat mempopulerkan tren tersebut dan membuatnya semakin viral di dunia maya.
Salah satu unggahan pertama yang menarik perhatian adalah foto seorang pria yang membagikan gambar dirinya, istrinya, dan anjing mereka di pantai dalam versi Ghiblified. Unggahan ini telah ditonton lebih dari 45 juta kali dan mendapat hampir 45.000 suka.
Yang lebih mencolok, akun resmi Gedung Putih AS di X juga ikut meramaikan tren ini pada hari Jumat dengan memposting gambar AI yang menunjukkan seorang petugas Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) menangkap seorang wanita dalam ilustrasi, Virginia Basora-Gonzalez, atas dugaan perdagangan fentanyl. Unggahan ini memicu kemarahan publik karena dianggap tidak sensitif.
Miyazaki dikenal karena menggambar ribuan frame secara manual dalam setiap filmnya. Ia selalu berpegang pada prinsip bahwa animasi harus berakar pada teknik menggambar tangan tradisional, yang memberikan film-film Studio Ghibli keunikan tersendiri, mulai dari detail yang rumit hingga ekspresi karakter yang mendalam.
“Saya percaya bahwa alat utama seorang animator adalah pensil,” ujarnya dalam wawancara dengan The New York Times pada tahun 2021.
Ketika ia menggunakan gambar yang dihasilkan komputer (CGI), penggunaannya sangat terbatas, seperti dalam Princess Mononoke. Pendekatan ini membedakan film-film Ghibli dari animasi mainstream yang lebih mengutamakan efisiensi waktu dan tenaga.
Selain pandangan pribadi Miyazaki terhadap AI, muncul juga kritik publik mengenai masalah etika dan hak cipta. Model AI seperti ChatGPT dianggap melatih sistemnya menggunakan karya seni yang sudah ada tanpa izin dari penciptanya.
Ahli hukum dan AI dari saluran TV populer Showtime, Rob Rosenberg, menyatakan Ghibli bisa saja menggugat OpenAI terkait viralnya aset dan gaya seni mereka yang digunakan oleh ChatGPT.
Namun, Rob tidak merinci apakah Ghibli dapat menggunakan dasar hukum di Jepang untuk mengajukan gugatan terhadap OpenAI. Di sisi lain, di Amerika Serikat (AS), mereka dapat memanfaatkan Undang-Undang Hak Cipta AS yang dikenal sebagai The Lanham Act.
“Di sini, Ghibli bisa menggunakan undang-undang tersebut untuk menunjukkan bahwa OpenAI telah melakukan praktik promosi palsu, pelanggaran hak cipta, dan kompetisi yang tidak adil,” kata Rob.
Rob menambahkan Ghibli bisa berargumen bahwa dengan mengubah foto pengguna ke dalam Gaya Ghibli, OpenAI telah merusak reputasi merek dagang Ghibli melalui ChatGPT.
Bagikan