logo
Ikuti Kami di:

Risiko Resesi Menghantui di Balik Kebijakan Tarif Donald Trump

Risiko Resesi Menghantui di Balik Kebijakan Tarif Donald Trump
Presiden AS Donald Trump. (Wikipedia)
Idham Nur Indrajaya03 April, 2025 14:04 WIB

JAKARTA - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, telah mengumumkan serangkaian tarif baru yang signifikan sebagai bagian dari strategi perdagangan yang lebih luas untuk melindungi industri domestik AS. Kebijakan ini, yang diumumkan pada 2 April 2025 dan disebut sebagai "Liberation Day," mencakup tarif dasar 10% pada semua impor, serta tarif tambahan untuk mitra dagang utama.

Daftar Tarif yang Dikenakan:

  • China dan Taiwan: 32%
  • Uni Eropa: 20%
  • India: 26%
  • Impor Mobil: 25%
  • Indonesia: 32%
  • Malaysia: 24%
  • Filipina: 17%
  • Singapura: 10%
  • Thailand: 36%
  • Vietnam: 46%

Kebijakan ini disebut sebagai tarif timbal balik, dengan tujuan menyamakan perlakuan tarif antara AS dan negara mitra dagangnya. Namun, langkah ini berisiko menimbulkan perang dagang, yang dapat memicu ketidakpastian ekonomi global.

Dampak Ekonomi terhadap AS dan Dunia

Menurut para ekonom dari JPMorgan, kebijakan tarif ini dapat mengganggu momentum ekonomi AS dan meningkatkan risiko resesi dalam waktu dekat. 

Diperkirakan, tarif baru akan menambah inflasi pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) sebesar 1,0% hingga 1,5% pada tahun 2025, terutama pada kuartal kedua dan ketiga. 

Kenaikan harga barang impor ini berpotensi mengurangi daya beli rumah tangga, sehingga pertumbuhan pendapatan riil dapat menjadi negatif dan mengarah pada kontraksi dalam pengeluaran konsumen.

Baca Juga: Daftar Negara yang Kena Tarif Impor Trump, Indonesia Kena 32 Persen

Selain itu, para ekonom juga memperingatkan potensi penurunan ekspor dan investasi akibat kebijakan ini. Beberapa negara telah mengisyaratkan akan mengambil langkah balasan, termasuk Uni Eropa dan Kanada. Hal ini dapat memperburuk ketidakpastian dalam dunia usaha dan menghambat pengeluaran modal, yang sudah melemah akibat kondisi keuangan yang lebih ketat.

Reaksi Global terhadap Kebijakan Tarif AS

Kebijakan ini telah menimbulkan reaksi keras dari berbagai negara. Uni Eropa mengutuk langkah tersebut sebagai tindakan yang merusak hubungan perdagangan internasional. Irlandia, yang memiliki hubungan dagang erat dengan AS, menyuarakan keprihatinan mendalam dan mendorong pendekatan negosiasi daripada konfrontasi.

Sementara itu, di AS sendiri, kebijakan tarif ini mendapatkan reaksi beragam. Para pemimpin bisnis menyatakan keprihatinan atas potensi lonjakan harga bagi konsumen dan dampaknya terhadap rantai pasokan global. Namun, serikat pekerja seperti United Auto Workers mendukung langkah ini dengan harapan dapat meningkatkan lapangan kerja di industri otomotif domestik.