Bagikan:
Ilustrasi bank / Gradesingapore.com
undefinedBagikan:
JAKARTA – Sejumlah saham Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bergerak variatif hingga akhir perdagangan sesi pertama pada Senin, 24 Maret 2025. Pergerakan ini terjadi setelah pemerintah mengalihkan kepemilikan sahamnya ke PT Biro Klasifikasi Indonesia (BKI) sebagai bagian dari penguatan sovereign wealth fund (SWF) Danantara.
Berdasarkan data keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, telah ada tujuh BUMN yang dialihkan sahamnya ke BKI, antara lain, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT Jasa Marga Tbk (JSMR), PT Semen Indonesia Tbk (SMGR).
Selain pemindahan emiten teknologi dan infrastruktur, BKI juga mendapatkan pengalihan saham Bank Himbara antara lain PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN).
Merespons kebijakan ini, pergerakan saham BUMN di lantai bursa terbagi khususnya saham Bank Himbara mengalami pelemah. Saham BBRI, misalnya, turun 2,43% ke Rp3.610 per saham dan secara year to date melemah 11,52%.
Demikian juga, saham BBNI juga melemah 0,53% ke Rp3.750 per saham dengan pelemahan year to date sebesar 0,53%. BMRI mengalami penurunan 0,45% ke Rp4.390 per saham, dengan penurunan year to date sebesar 22,98%.
Selain itu, saham TLKM juga mengalami tekanan dengan pelemahan 0,87% ke Rp2.290 per saham. Sepanjang tahun ini, saham tersebut telah mencatatkan penurunan sebesar 15,50%. Di sisi lain, beberapa saham justru mengalami penguatan.
Saham BBTN naik 1,30% ke Rp780 per saham, meskipun secara year to date masih melemah 31,58%. JSMR juga mencatat kenaikan 1,92% ke Rp3.720 per saham, tetapi secara year to date masih turun 14,09%.
SMGR juga mencatatkan kenaikan 2,83% ke Rp2.180 per saham dalam perdagangan sesi pertama. Namun, secara year to date emiten yang bergerak di bidang semen ini menunjukkan pelemahan 33,74%.
Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau masih mengalami pelemahan, tertekan turun 2,81% dan sempat anjlok ke bawah level 6.000, mencerminkan kegelisahan investor atas arah kebijakan ekonomi pemerintahan baru.
Analis Maybank Securities, Kok Hoong Wong mengatakan meski pemerintah menegaskan bahwa kontrol atas BUMN tetap terjaga melalui saham seri A Dwiwarna, investor tampaknya masih belum sepenuhnya yakin dengan implikasi dari restrukturisasi ini. Hal ini terlihat dari pelemahan pasar yang cukup tajam, dengan mayoritas saham BUMN mengalami koreksi signifikan.
“Investor melihat pengalihan saham ini sebagai langkah besar yang dapat mengubah arah strategi BUMN, terutama karena kepemilikan langsung pemerintah kini menjadi tidak langsung melalui BKI,” ujarnya, dikutip dari Bloomberg pada Senin, 24 Maret 2025.
Selain itu, pengumuman struktur kepengurusan Danantara yang dijadwalkan pada hari ini turut menambah spekulasi di pasar. CEO BPI Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, menyatakan bahwa jajaran kepengurusan holding akan diumumkan pada pukul 12.00 WIB.
Namun, investor saat ini mencari kepastian, mengingat pasar keuangan cenderung bereaksi negatif terhadap ketidakpastian. Pengalihan saham BUMN ke BKI sebagai holding operasional Danantara menimbulkan pertanyaan mengenai strategi bisnis, dividen, dan potensi perubahan arah kebijakan.
Kendati demikian, Pemerintah tetap optimistis bahwa langkah ini akan memperkuat Danantara sebagai SWF raksasa dengan total aset mencapai US$900 miliar. Namun, reaksi pasar menunjukkan bahwa investor masih menunggu kepastian lebih lanjut sebelum bersikap optimis.
Dalam jangka panjang, jika pengalihan saham ini terbukti meningkatkan efisiensi dan nilai perusahaan BUMN, kepercayaan investor bisa kembali pulih. Sebaliknya, jika ada sinyal buruk dari manajemen atau kebijakan yang kurang jelas, tekanan jual bisa berlanjut.