logo
Ikuti Kami di:

Daya Beli Anjlok, Momentum Lebaran Tak Berdampak Signifikan

Daya Beli Anjlok, Momentum Lebaran Tak Berdampak Signifikan
Aktifitas para pedagang sayur dan buah di sebuah pasar tradisional di kawasan Senen, jakarta Pusat 30 Januari 2023. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia
Muhammad Imam Hatami06 April, 2025 02:06 WIB

JAKARTA - Sederet indikator ekonomi nasional menunjukkan sinyal pelemahan daya beli masyarakat yang cukup mengkhawatirkan. Lembaga riset ekonomi NEXT Indonesia Center menyebut kondisi ini harus segera direspons pemerintah agar tidak berdampak lebih luas terhadap perekonomian nasional.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia mengalami deflasi sebesar 0,1% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Februari 2025. Angka ini merupakan yang terendah sejak Januari 2000. 

Menurut NEXT Indonesia Center, deflasi tersebut justru menjadi pertanda lemahnya permintaan masyarakat karena konsumsi yang menurun, bukan karena peningkatan daya beli.

Kondisi ini diperparah oleh turunnya Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Bank Indonesia (BI). Survei BI mencatat konsumen semakin pesimistis terhadap kondisi penghasilan dan semakin khawatir terhadap ketersediaan lapangan kerja. 

Akibatnya, banyak konsumen mulai menahan pengeluaran dan memilih membatasi belanja. Fenomena tersebut mulai terasa di pusat-pusat perdagangan seperti Pasar Tanah Abang, Jakarta, yang dilaporkan sepi pengunjung sejak awal tahun. 

“Anggapan itu membuat keyakinan konsumen terhadap penghasilannya ikut melemah (pesimistis),” ungkap Christiantoko, Direktur Eksekutif NEXT Indonesia Center, dalam keterangan resminya di Jakarta, dikutip Sabtu, 5 April 2025.

Penurunan konsumsi ini juga tercermin dari kontraksi penjualan eceran sebesar 0,5% (yoy) pada Februari 2025. Penurunan terbesar terjadi pada kelompok pakaian, bahan bakar minyak (BBM), dan alat komunikasi.

Momentum Ramadan dan Idulfitri yang biasanya menjadi pendorong konsumsi masyarakat diharapkan mampu memperbaiki keadaan tak terlalu berdampak. NEXT Indonesia Center menilai efek musiman ini tidak akan cukup kuat tanpa kebijakan pendukung dari pemerintah. 

Selain itu, data penerimaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) pada Januari 2025 yang hanya mencapai Rp24,6 triliun, terendah dalam 12 tahun terakhir. Kondisi tersebut menunjukkan aktivitas konsumsi memang sedang lesu. Penerimaan PPN yang rendah memperkuat sinyal bahwa tekanan terhadap daya beli terjadi secara luas dan sistemik.

“Jadi kalau dilihat penerimaan PPN per Januari setiap tahun, tahun 2025 ini yang terburuk. Jenis pajak tersebut merupakan gambaran yang memberikan sinyal menurunnya daya beli masyarakat,” jelas Christiantoko.

Tingginya Angka PHK

Di sisi lain, tingginya angka pemutusan hubungan kerja (PHK) juga turut membebani konsumsi rumah tangga. Padahal, konsumsi rumah tangga merupakan penyumbang terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, yakni sekitar 54%. 

Jika pelemahan konsumsi ini terus berlanjut, maka pertumbuhan ekonomi nasional berpotensi melambat. Tak hanya lapisan masyarakat bawah, kelas menengah pun ikut terdampak. 

Penjualan kendaraan ritel tercatat turun 10%, sementara penjualan grosir dari pabrik ke diler menurun 4,5% pada periode Januari hingga Februari 2025. Ini menunjukkan tekanan ekonomi menjalar ke berbagai segmen masyarakat. NEXT menekankan pentingnya intervensi pemerintah untuk menjaga stabilitas konsumsi. 

Langkah-langkah yang perlu segera diambil antara lain menjaga kestabilan harga, terutama setelah Lebaran, memperlancar rantai logistik dan distribusi barang untuk menekan harga, serta memastikan program bantuan sosial (bansos) berjalan dengan tepat sasaran.