Bagikan:
Beberapa orang terkaya di dunia
undefinedBagikan:
JAKARTA - Kebijakan tarif balasan yang diumumkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 3 April 2025 mengguncang ekonomi global dan lebih dulu menggoyang pundi-pundi orang terkaya dunia.
Sebanyak 500 miliarder global kehilangan kekayaan hingga US$208 miliar, setara dengan Rp3.444 triliun (asumsi kurs Rp16.560). Ini merupakan penurunan kekayaan kolektif terbesar sejak pandemi Covid-19 dan salah satu yang paling tajam dalam 13 tahun terakhir.
Menurut laporan Bloomberg Billionaires Index, rata-rata kekayaan para miliarder terpangkas 3,3%. Miliarder asal Amerika Serikat adalah yang paling terdampak. Raksasa teknologi seperti Mark Zuckerberg dan Jeff Bezos mengalami kerugian belasan miliar dolar dalam waktu singkat.
Sementara itu, hanya segelintir miliarder non-AS yang selamat. Salah satunya adalah Carlos Slim dari Meksiko. Setelah Meksiko dikeluarkan dari daftar negara target tarif, bursa saham lokal menguat 0,5%, mendongkrak kekayaan Slim naik 4% menjadi US$85,5 miliar.
Mark Zuckerberg menjadi salah satu nama besar yang paling merasakan dampak kebijakan ini. Kekayaannya terpangkas US$17,9 miliar atau sekitar Rp296,42 triliun, menyusul anjloknya saham Meta sebesar 9%.
Ironisnya, saham Meta sempat menikmati reli di awal tahun dan bahkan masuk dalam jajaran Magnificent Seven. Namun sejak pertengahan Februari, tren positif itu berubah arah. Saham Meta tercatat turun 28%, mencerminkan tekanan berat yang kini menghantui sektor teknologi.
Jeff Bezos juga ikut kehilangan pijakan. Saham Amazon merosot 9% pada Kamis, 4 April 2025—penurunan harian terbesar sejak April 2022. Akibatnya, kekayaan pribadi Bezos menyusut US$15,9 miliar atau sekitar Rp263,3 triliun. Ini memperlihatkan betapa sensitifnya pasar terhadap kebijakan yang mengancam rantai pasok dan arus barang lintas negara.
Tak kalah dramatis, Elon Musk kehilangan US$11 miliar atau Rp182,16 triliun. Tahun 2025 memang bukan tahun yang ramah bagi Musk—sejak Januari, total kerugian kekayaannya mencapai US$110 miliar.
Penurunan ini bukan semata karena pasar, tapi juga karena sentimen politik. Kedekatannya dengan Donald Trump dinilai menciptakan persepsi negatif, terutama di tengah ketidakpastian regulasi untuk sektor kendaraan listrik yang kini semakin tertekan.
Ernest Garcia III, bos dari perusahaan jual-beli mobil bekas Carvana, turut terhempas. Saham perusahaannya anjlok 20%, menyebabkan kekayaan Garcia susut US$1,4 miliar atau sekitar Rp23,18 triliun. Padahal sebelumnya, saham Carvana sempat melonjak lebih dari 400% dalam setahun terakhir.
CEO Shopify asal Kanada, Tobi Lütke, kehilangan US$1,5 miliar atau Rp24,84 triliun, setelah saham perusahaannya turun 20% di bursa Toronto. Shopify sangat bergantung pada arus barang impor untuk menopang ekosistem e-commerce-nya. Dengan diberlakukannya tarif tambahan, fondasi bisnis itu pun mulai terguncang.
Dari Eropa, Bernard Arnault—taipan barang mewah asal Prancis—tak luput dari pukulan. Kekayaannya menyusut US$6 miliar (Rp99,36 triliun) setelah rencana Uni Eropa menerapkan tarif balasan 20% terhadap produk tujuan AS. Hal ini langsung menekan saham LVMH, rumah bagi merek-merek ikonik seperti Louis Vuitton, Christian Dior, dan Bulgari.
Di Asia, Zhang Congyuan, produsen sepatu asal China, kehilangan US$1,2 miliar (Rp19,87 triliun). Trump memberlakukan tarif tambahan 34% atas produk dari Tiongkok, membuat saham Huali anjlok. Dampaknya menjalar hingga ke merek global seperti Nike, Adidas, dan Lululemon—yang banyak menggantungkan produksi pada kawasan Asia Tenggara.
Apa yang tampak sebagai strategi ekonomi proteksionis di atas kertas, kini menjelma ancaman nyata bagi stabilitas ekonomi global. Tak hanya memangkas kekayaan para taipan, kebijakan tarif baru AS juga mengirim gelombang tekanan ke pasar uang dunia. Rupiah dan sejumlah mata uang Asia mulai terdepresiasi, memperbesar risiko inflasi dan mempersempit ruang gerak kebijakan moneter negara-negara berkembang.
Sejumlah ekonom mulai menyuarakan kekhawatiran: apakah ini hanya awal dari krisis global baru? Jika ketegangan dagang terus meningkat, bukan tidak mungkin efek jangka panjangnya akan terasa jauh lebih dalam—tak hanya bagi para miliarder, tapi juga bagi masyarakat luas yang berada di bawah bayang-bayang fluktuasi harga, PHK massal, dan ketidakpastian ekonomi.